Isi Perjanjian Malundaq Suku Mandar


(Pura Loa di Malundaq)


Perjanjian Malunda merupakan perjanjian pertama yang diadakan secara resmi antara Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Baqbana Binanga. Perjanjian ini terjadi pada abad XVII masehi di Malundaq dengan pihak-pihak yang terlibat yaitu tujuh kerajaan yang ada dalam wilayah persekutuan Pitu Ulunna salu dan tujuh kerajaan yang ada dalam wilayah persekutuan Pitu baqbana Binanga. Perjanjian ini sampai sekarang dikenal dengan ; Pura Loa di Malundaq.

Ada tiga versi pendapat tentang tujuan diadakannya perjanjian Malundaq, yaitu :

Pertama ; Versi dari pihak Pitu Ulunna Salu yang mengatakan bahwa Perjanjian Malundaq diadakan sebagai upaya menyelesaikan sengketa Balanipa dengan Rante Bulahang sebagai daerah/wilayah yang bergelar Indo Lembang dan Tomaqdua Taking Tomattallu Sulengka di Taq-ang.

Kedua ; Versi dari pihak Pitu Baqbana Binanga yang mengatakan bahwa Perjanjian Malundaq diadakan dalam upaya menyelesaikan perbedaan pendapat antara Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Baqbana Binanga mengenai Lalikang Tallu di Malundaq serta Lante samballa di Taq-ang.

Ketiga ; Versi dari beberapa sumber yang mengatakan bahwa Perjanjian Malundaq diadakan untuk membicarakan tentang daerah paliliq Massedang yang statusnya tidak menentu antara di Pitu Ulunna Salu atau di Pitu Baqbana Binanga atau lebih tepatnya berada pada posisi netral.

Untuk membuktikan versi atau pendapat mana yang benar dari ketiga pendapat tersebut, sampai sekarang belum ada data akurat yang bisa dijadikan pegangan untuk menentukannya. Namun tidak tertutup kemungkinan, ketiga pendapat tersebut semuanya benar dalam artian ketiga masalah tersebut memang menjadi agenda utama yang dibicarakan dalam pertemuan/perjanjian Malundaq atau Pura Loa di malundaq.

Dari data tertulis (lontar) dan input dari beberapa informan, baik di Pitu Ulunna salu maupun di Pitu baqbana Binanga untuk sementara dapat disimpulkan bahwa kesepakatan yang dihasilkan dalam Perjanjian Malundaq adalah kesepakatan tentang persatuan dan kesatuan serta kerjasama antara dua wilayah persekutuan terutama dalam bidang keamanan dan ekonomi serta kehidupan sosial masyarakatnya dengan catatan tidak saling mencampuri dalam hal pemerintahan dan adat istiadat masing-masing.

Seperti yang diungkapkan oleh Puaq Tanniagi, sejarawan dan budayawan Sendana sebagai berikut :

Moaq siruppaq-i uwai lembang annaq uwai leqboq, lembang tammasing leqboq tamma tawar. Padza niposoei soetaq, nipaq jappa jappataq, padza nipeadaq adaqtaq, niperapang rapattaq, padza moneteiq di petawung tarraqbataq, padza mandandang bassiq nipagittirtaq, di Pitu Ulunna Salu di Pitu Baqbana Binanga.

Terjemahan :

Bila air sungai dan air laut bertemu, air sungai tidak menjadi asin dan air laut tidak menjadi tawar. Masing-masing bebas menjalankan aturan, hukum serta adat istiadat di wilayah masing-masing tanpa ada campur tangan dari pihak lain.

Pertemuan air sungai dan air laut dalam kesepakatan ini adalah gambaran bertemunya (bersatunya) Pitu Baqbana Binanga dengan Pitu Ulunna salu dalam arti bahwa mereka tidak akan saling mencampuri sistim pemerintahan, hukum serta adat kebiasaan masing-masing.

Pitu Baqbana Binanga memata di Mangiwang, Pitu Ulunna Salu memata di Sawa.

Terjemahan :

Pitu Baqbana Binanga mengintai dan mengawasi ikan Hiu, Pitu Ulunna Salu mengintai dan mengawasi ular)

Isi perjanjian ini menggambarkan kesepakatan pada bidang keamanan dimana kerajaan-kerajaan yang ada diwilayah persekutuan Pitu Baqbana Binanga bertugas menjaga serta membendung ancaman musuh yang datang dari arah lautan/pesisir (digambarkan dengan ikan hiu) dan kerajaan-kerajaan yang ada diwilayah persekutuan Pitu Ulunna salu menjaga serta membendung ancaman musuh yang datang dari arah hutan/gunung (digambarkan dengan ular).

Iya-iyannamo mamboeq pura loa, laraqba beang larumbang kola-kola. Moaq diandi nasesa dewata, tammatawar di lembang tammasing di leqboq, tanni paqbati pennannaranna.

Terjemahan :

Barangsiapa yang mengingkari perjanjian/kesepakatan, hidup dan keturunannya akan punah. Kalaupun ada yang tersisa, tidak tawar di sungai tidak asin di laut, keturunannya akan hidup sia-sia.

Isi kesepakatan ini menggambarkan sumpah dari kedua belah pihak yang akan setia memegang dan mematuhi kesepakatan yang telah dibuat dengan menjadikan keturunan (keluarga secara turun temurun) sebagai tumbal bila mengingkarinya.

****

Daftar Kepustakaan


Abdul Muttalib ; Kamus Bahasa Mandar – Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI, Jakarta 1977.

Ibrahim, MS ; Himpunan Catatan Sejarah Pitu Ulunna Salu – Hasil Seminar Sejarah Mandar X, Tinambung Polmas 1977.

H. Saharuddin ; Mengenal Pitu Baqbana Binanga Mandar Dalam Lintas Sejarah Pemerintahan Daerah di Sulawesi Selatan – CV Mallomo Karya Ujung Pandang 1985.

Ahmad Sahur ; Nilai-Nilai Budaya dalam Sastra Mandar – Fakultas Sastra Unhas Ujung Pandang 1975.

Drs. Suradi Yasil dkk ; Kalindaqdaq dan Beberapa temanya – Balai Penelitian Bahasa, Ujung Pandang 1982

Drs. Suradi Yasil dkk ; Inventarisasi Transliterasi Penerjemahan Lontar Mandar – Proyek IDKD Sulsel 1985.

A.M.Mandra ; Caeyana Mandar – Yayasan Saq-Adawang Sendana 1987

A.M.Mandra ; Buraq Sendana (kumpulan Puisi Mandar) – Yayasan Saq-Adawang Sendana 1985.

A.M.Mandra ; Beberapa Kajian Tentang Budaya Mandar Plus jilid I,II dan III – Yayasan Saq-Adawang, 2000.

Abd.Razak, DP ; Sejarah Bone – Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujung Pandang 1989.

Sumber Data

  1. Sumber tertulis ;
  2. Lontar Balanipa Mandar
  3. Lontar Sendana Mandar
  4. Lontar Pattappingang Mandar
  5. Lembar Perjanjian kuno
  6. Naskah-naskah Seminar Budaya Mandar

Sumber Wawancara

  1. H. Abdul Malik Pattana Iyendeng – Sesepuh, Sejarawan dan Budayawan Mandar
  2. Abd. Azis Puaqna Itima – Sejarawan, Budayawan Mandar
  3. Puaq Tanniagi – Sejarawan Budayawan Mandar
  4. Paloloang Puanna Isinung – Budayawan Mandar
  5. Puaq Rama Kanne Cabang – Budayawan Mandar
  6. Daeng Matona – Hadat Pamoseang
  7. Jabirung – Soqbeqna Indona Ralleanaq

Editor

  1. Adi Ahsan, S.S.M.Si.
  2. Opy. MR.
Lebih baru Lebih lama