Tradisi Meuri Seorang Istri di Suku Mandar Sulawesi Barat

Sumber: Rudi Obhac (YouTube)

Apa itu Tradisi Meuri?

Tradisi Meuri adalah sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat di Suku Mandar ketika istri hamil antara 7 sampai 8 bulan. Tradisi ini dimaksudkan agar proses persalinan berjalan dengan lancar dan aman, terutama bagi seorang istri yang sedang mengandung anak pertamanya.

Dalam acara ini, tuan rumah menyiapkan kue berbagai bentuk, ayam, kendi berisi air yang direndam dengan bunga, dan burewe tadhu (bunga pinang) dan berbagai jenis bunga, kayu, beras, dll. Proses pelaksanaannya terdiri dari ibu hamil yang duduk di samping suaminya. Mereka berdua mengenakan pakaian tradisional mandarin. Kemudian sang istri diminta memilih kue untuk dimakan. Jika memilih kue yang bentuknya bulat, diyakini dan diperkirakan akan dikandung oleh bayi dan yang akan lahir kelak adalah bayi laki-laki. Tetapi jika ibu memilih kue pipih, diperkirakan bayinya perempuan.

Setelah makan bersama (Ni Pande Mangidang), wanita itu berbaring di tempat tidur, kemudian Sando Piana (bidan tradisional) menaburkan nasi di dahi dan perut wanita hamil itu. Ayam yang telah disiapkan sebelumnya mencocor di atas nasi yang ditaburkan sebelumnya. Sando tersebut kemudian meletakkan sepiring nasi ketan, telur, dan lilin yang menyala di perut ibu hamil itu, lalu ditempelkan di keningnya. Kemudian dukun mengayunkan piring beberapa kali di atas kepala beberapa kali dari atas kepala sampai ke kaki ibu hamil. Setelah itu, ayam diayunkan di seluruh badan Toniuri tiga atau lima kali dan paling banyak tujuh kali. Kemudian ayam-ayam tersebut dilepaskan melalui pintu depan rumah dan Toniuri dibangunkan dan digiring ke pintu depan.

Di pintu depan rumah, Sando Piana (bidan tradisional) memegang kayu bakar di atas kepala Toniuri. Dan kayu yang telah dibakar tersebut dibilas dengan air yang sudah dicampur burewe tadhu, banguttuwo, seribu ribu, daun attawang dan daun alinduang. Penyiraman dilakukan berulang-ulang hingga api padam dan membasahi seluruh tubuh Toniuri. Sisanya langsung dibuang ke tanah dan Toniuri dilepaskan pakaiannya untuk dipersembahkan kepada Sando Peana. Air disiramkan ke atas Toniuri 14 kali, dimaksudkan agar bayi yang dikandungnya setelah lahir memiliki wajah yang cantik dan rupawan seperti bulan purnama.

Mansur, Mansur. "Akomodasi Islam Terhadap Ritual Posasiq Mandar di Pulau Bungkutoko Sulawesi Tenggara." Jurnal Dakwah 19.1 (2018): 53-72.

Posting Komentar

Komen aja, asalkan jangan spam!

Lebih baru Lebih lama