Type something and hit enter

author photo
By On
Tanah Mandar secara letak geografis terletak disepanjang laut Sulawesi. Dengan kekayaan laut yang dimilikinya, membuat mata pencaharian utama sebagian masyarakat adalah menjadi seorang pelaut atau nelayan. Bagi para nelayan, ada keyakinan yang dipegang dalam bentuk pegelaran ritual.

Nelayan dan para penduduk di pesisir pantai mempercayai sebuah keyakinan dengan ritual adat yang dinamakan mappande sasiq. Dalam bahasa Indonesia "mappande sasiq" berarti "memberi makan laut". Sebuah tradisi yang bersifat sakral dengan tujuan meminta kepada Allah keselamatan dan hasil laut yang melimpah. Dengan doa dan keyakinan diharapkan agar terhindar dari gelombang laut, hewan-hewan laut yang buas, badai, dan memberikan hasil tangkapan yang yang bernilai ekonomi tinggi bagi nelayan.

Ritual ini juga sering dilakukan dengan tujuan sebagai penolak bala. Apabila cuaca buruk melanda, masyarakat menggelar ritual mappande sasiq dengan memohon keselamatan kepada Allah bagi para warga yang bermukim di sekitar pesisir dan kepada para nelayan agar terhindar dari segala mala bahaya yang datangnya dari laut.

Sumber: Facebook (Kim Mampie)
Tahapan pelaksanaan ritual mappande sasiq itu terdisi atas lima bagian. Yang pertama adalah mengumpukan sumbangan, yang kedua tahap pemotongan hewan qurban, yang ketiga tahapan pelaksanaan ritual mappande sasiq, yang keempat tahapan meletakkan sesaji, dan tahap terakhir adalah tahap makan bersama para warga sekitar yang hadir.

Ritual tersebut masih dipegang teguh dari dulu hingga sekarang. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang dalam bentuk unsur lisan dan unsur bukan lisan. Unsur lisan dalam tradisi ini adalah doa-doa yang dibacakan dan unsur  bukan lisan berupa sesaji, pemotongan hewan qurban dan pembakaran dupa. Adapun sesaji yang disiapkan tidak dibuang secara percuma, melainkan dimakan bersama-sama dengan masyarakat setempat.

Masyarakat di Tanah Mandar sangat meyakini ritual mappande sasiq ini sebagai simbol keselarasan hidup manusia dengan alam dan sang pencipta. Dilakukan dalam rentan waktu tertentu yang telah ditentukan oleh seseorang yang dianggap pemimpin adat ritual tersebut. Sebagian masyarakat di tengah derasnya arus globalisasi masih terus mempertahankan tradisi tersebut.

Komen aja, asalkan jangan spam!

Click to comment