Type something and hit enter

author photo
Diposting oleh On
Sheikh Arsyad Maddapungan (1886-1954, usia 68 tahun) dihitung sebagai sosok ulama besar yang memiliki peran sentral dalam wilayah tanah Mandar (Sulawesi Barat). Dia dikenal dengan nama "Annangguru Maddapungan" dan "Puang Panrita", disebut sebagai "Syaikh Masyayikh Mandar" dan telah menjabat sebagai Campalagian Qadi sepanjang 1948-1954.

Syekh Arsyad Mandar (tengah)

Yang menarik, sosok Syaikh Arsyad Maddapungan terhubung dan terhubung dengan KH Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971, usia 83 tahun) di sanad ilmiah dan jaringan intelektualnya. Keduanya bertemu di Mekah dan belajar di dewan pengajian di bawah bimbingan Syaikh Sa'id al-Yamani (ulama besar sekolah Syafi'i dan Imam Masjid al-Haram, tahun 1935) di awal periode abad ke-20 Masehi

Saya memperkirakan bahwa di Makkah Syaikh Arsyad Maddapungan juga belajar dengan sejumlah ulama nusantara yang mengajar di Masjid al-Haram pada periode dekade pertama abad ke-20 M, seperti Sheikh Mahfuzh Tremas (tahun 1920), Sheikh Ahmad Khatib Minangkabau (w 1916), Sheikh Mukhtar Bogor (w 1930), Sheikh Abdul Hamid Kudus (w 1917), Syekh Ahmad Nahrawi Banyumas (w 1927), dan lainnya.

KH Wahab Hasbullah kembali ke Jawa sekitar tahun 1914, sementara Sheikh Arsyad Maddapungan kembali ke Sulawesi sekitar tahun 1913. Keduanya kembali dari Mekah pada waktu yang hampir bersamaan, ketika pecahnya Perang Dunia I.


Rumah panggung Syech Arsyad Mandar
Setelah kembali ke tanah Mandar, Syekh Arsyad Maddapungan kemudian menikahi putri Syekh Abdul Hamid, ulama agung dan Qadhi Campalagian untuk periode 1895-1948. Syekh Arsyad Maddapungan menetap di Campalagian dan mengurus pertemuan ilmiah di masjid Campalagian, yang penuh sesak dengan ratusan siswa dari seluruh penjuru tanah Mandar.

Menariknya, Syekh Arsyad Maddapungan memelihara dan mewarisi tradisi mempelajari sistem kuning buku klasik, yang di Jawa dikenal sebagai "bandongan" dan "sorogan", lengkap dengan interpretasi interlinear menggunakan bahasa Mandar (di Jawa dikenal sebagai "makna mandul") . Oleh orang-orang Mandar, tradisi pembacaan buku kuning ini disebut "manggaji kitta".

Hubungan dekat antara Sheikh Arsyad Maddapungan dan KH Wahab Hasbullah juga terlihat lagi selama kerusuhan gerombolan Wahhabi yang menduduki Hijaz, termasuk kota suci Mekah pada bulan Desember 1925. Selama masa ini, banyak ulama Mekah yang pergi ke luar Hijaz untuk mengungsi menyelamatkan diri, di antaranya adalah Syekh Sa'id Yamani dan anak-anaknya, yaitu Syekh Shalih Yamani, Syekh Hasan Yamani, dan Syekh Muhammad Ali Yamani. Mereka pergi mengungsi ke kepulauan.

Syekh Sa'id Yamani dan anak-anaknya tercatat telah berhenti di Jawa Timur dan disambut oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Faqih Maskumambang, bersama dengan para sarjana Aswaja Jawa lainnya.

Ini seperti yang dicatat dalam pengantar taqrîzh (pengesahan) yang diberikan oleh Sheikh Sa'id Yamani dalam buku "Adab al-limAlim wa al-Muta'allim" oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Keluarga Syekh Sa'id Yamani dan kelompok ulama Makkah lainnya juga berhenti selama beberapa waktu di Jawa Timur dan melakukan perjalanan ke pesantren-pesantren Asmaja Jawa Timur pada waktu itu.

Para pengungsi dari Sheikh Sa'id Yamani dan keluarganya tiba di Mandar. Di tanah Mandar, mereka berhenti di Campalagian, khususnya di rumah Sheikh Abdul Hamid (Campadagian qadhi), Sheikh Arsyad Campalagian (murid langsung Sheikh Sa'id Yamani dan juga menantu Syekh Abdul Hamid Qadhi) Campalagian yang telah menjadi sarjana terhormat di Mandar), juga Sayyid Hasan al-Mahdali (putrinya, Munawwarah, menikah dengan Sheikh Hasan Yamani, putra Sheikh Sa'id Yamani). Di masjid Campalagian, Sheikh Sa'id Yamani juga memiliki kesempatan untuk mengajarkan ilmu-ilmu Islam selama beberapa waktu

Dalam perjalanannya di masa depan, wilayah Campalagian tidak hanya menyandang julukan "mekkah pengetahuan Islam di tanah Mandar", tetapi juga menjadi dasar untuk pengembangan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) serta jantung dari Tradisi dan ideologi Aswaja di wilayah tersebut.

Fakta ini semakin diperkuat dengan kehadiran Syekh Muhammad Thahir (Imam Lapeo, w 1952), seorang cendikiawan sufi agung di Tanah Mandar yang juga hidup bersama Syekh Arsyad Maddapungan dan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari.

Makam Syaikh Arsyad Maddapungan ada di belakang rumahnya tidak jauh dari daerah Masjid Campalagian. Rumah kuno dengan arsitektur panggung khas Mandar kini dihuni oleh salah seorang cucunya dari jalur putrinya, yaitu KH Abdul Waris Zain (saat ini berusia lebih dari 70 tahun).

Salah satu putri Syekh Arsyad Maddapungan, Muhaebah, menikah dengan muridnya, KH Muhammad Zain (w 1987), yang kemudian menggantikan posisi Syaikh Arsyad Maddapungan sebagai Qadhi Campalagian (bertugas sepanjang 1954-1987).