Type something and hit enter

author photo
By On

Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Muharram atau sering disebut tahun baru Islam. Pada bulan Muharram di kampung saya  banyak mengadakan acara syukuran. Warga kampung akan membawa beberapa makanan dan minuman khas daerah kami seperti Ule’-ule’ (bubur kacang hijau), sokkol, dan bolu paranggi.

Namun pada postingan kali ini saya hanya akan membahas tentang makanan khas dari daerah saya sendiri yaitu  Ule’-ule’ (bubur kacang hijau). Secara umum tidak ada perbedaan antara ule-ule dengan bubur kacang hijau lainnya, namun pada bahan yang digunakan ule-ule ada penambahan “tarreang”.

Tanaman “tarreang” merupakan tanaman dari keluarga suku rumput-rumputan (Poaceae) yang berkerabat dengan padi, namun yang membedakannya adalah bentuk buah yang bulir dan bulat. Tanaman satu ini adalah sumber karbohidrat utama pada zaman dahulu di daerah saya.


Lanjut dari ule-ule itu sendiri, makanan satu ini terbuat dari golla mamea (gula merah), Satta (santan), bue (Kacang hijau), dan tarreng (kadang kala diganti dengan beras). Ule-ule merupakan makanan yang menjadi favorit saya, rasanya yang manis dan lebih lagi memiliki kandungan gizi yang baik.

Bukan hanya itu, selain lebih bergizi, makanan-makanan lokal kita memiliki makna atau simbol di balik penggunaannya. Alias tidak asal buat untuk kemudian dihidangkan. Misalnya di bulan Muharram, bulan yang mana “tarreang” laku keras, selalu dibuat “ule-uleq” atau bubur. Paling banter bubur kacang hijau dan bubur jawawut. Mengapa dibuat “ule-uleq”? Ada dua alasan, pertama rasanya yang manis, kedua namanya itu adalah pengharapan, agar rezeki selalu ikut (kata “uleq” berarti ikut).

Click to comment